'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Idea
Home » Idea
KreativiTRASH
29 April 2017 15:14 WIB | dibaca 572
oleh: Erwan Widyarto

KreativiTRASH. Itu isitilah yang saya buat untuk menggambarkan sejumlah kreasi dari trash (sampah). Mereka berkreasi dengan barang-barang yang oleh sejumlah pihak telah dibuang, disingkirkan karena dianggap tak lagi bermanfaat. "Para pembuang" ini belum mengerti ada Fatwa MUI No 47 tahun 2014. Fatwa tersebut berbunyi: "Membuang sampah sembarangan dan/atau membuang barang yang masih bisa dimanfaatkan untuk kepentingan diri maupun orang lain. hukumnya haram. Sedangkan mereka yang bergiat membuat berbagai karya kreativiTRASH itu, diam-diam telah mengikuti fatwa MUI: Mendaur ulang sampah menjadi barang yang berguna bagi peningkatan kesejahteraan umat, hukumnya wajib kifayah."

Tanpa ada fatwa tersebut pun, mereka yang berkecimpung di "medan sampah" ini selalu berpikir bagaimana potensi yang luar biasa tersebut tidak sia-sia. Apalagi, kenyataan, di sekitar kita, sampah telah menjadi persoalan yang pelik. Di banyak kota, Tempat Penampungan Sampah Terakhir (TPST) atau secara umum dikenal sebagai TPA (Tempat Penampungan Akhir) sampah berada dalam kondisi kritis. Tak kuasa menampung lonjakan sampah yang terus membumbung tinggi.

Di banyak wilayah, sampah menimbulkan masalh yang tidak kecil. Konflik muncul gara-gara sampah dengan mudah terbaca di media, terpapar di televisi. Di Jogjapun, urusan sampah tak jauh berbeda. TPA Piyungan berada dalam kondisi kritis. Tak mampu lagi menampung 400-500 ton sampah yang di produksi warga masyarakat setiap harinya.

Urusan sampah yang sebelumnya dikelola oleh Sekber Kartamantul (Sekretariat Bersama Yogyakarta, Sleman, Bantul) dikembalikan ke provinsi. Dalam hal ini Dinas PUP-ESDM. Berbagai upaya pun ditempuh. Bagaimana mengurangi sampah, bagaimana mengelola sampah dengan lebih baik sehingga jumlah sampah yang dibuang ke TPA Piyungan bisa dikurangi.

Salah satu upaya dilakukan dengan sistem Bank Sampah. Sistem pengelolaan iini meniscayakan adanya pemilahan sampah sejak dari awal timbulan sampah. Sampah rumah tangga harus dipilah, lalu disosialisasikan pengolahan sampah organik menjadi pupuk yang bisa dimanfaatkan kembali. Yang non organis diolah menjadi sesuatu yang  lebih bernilai.

Dalam Bank Sampah semua disadarkan bahwa sampah harus dipilah sesuai jenisnya, yang disetor ke Bank Sampah adalah sampah kering dan bersih. Kertasya harus kertas yang kering. Plastik yang disetor harus plastik yang kering dan bersih, dan seterusnya. Karenanya, Bank Sampah jauh dari gambaran kekumuhan.

Menariknya, hanya dengan mengubah cara kerja dalam memerlakukan sampah itu, sisi ekonomi pun ikut berubah. Sebelumnya harus keluar uang untuk tukang sampah yang dimintai tolong untuk membuang sampah kita. Setelah memilah sampah, mengundang tukang sampah justru mendapatkan uang. Sampah kertas, plastik dan lainnya yang sudah dipilah itu ada harganya.

Agar waktu mengundang "tukang sampah" yang akan membeli sampah terlipah lebih efisien dan efektif, sampah sampah dari rumah tangga yag telah dipilah itu, bisa diorganisir lewat satu lembaga. Salah satunya Bank Sampah. Jadi warga, cukup menyetorkan sampah pilihannya ke bank sampah. Lalu, Bank Sampah mencatat dan menjualnya.

Para pengelola Bank Sampah yang ingin sampahnya lenbih dihargai, kemudian berpikir untuk mengolah sampah yang sudah terkumpul itu. Jadi tidak semua sampah pilahanyang dikumpulkan di jual. Sebagaian diolah menjadi berbagai barang yang lebih bernilai. Sehingga ketika dijual menjadi lebih tinggi nilainya.

Sampah sachet kopi, misalnya, dirangkai menjadi tas cantik, sampah dibungkus pewangi, dijahit menjadi tas laundry. Tutup botol air mineral, disusun menjadi tempat sampah kering, menjadi tas, menjadi bros atau gantungan kunci. Bekas tube pasta gigi, menjadi millennium warna keperakan yang cantik. Kertas dibubur menjadi kaligrafi. Atau dibentuk gelas untuk tempat pensil.

Pertanyaan, apakah pengelolaan sampah dengan Bank Sampah serta mengelolahnya menjadi produk daur ulang ada pengaruhnya pada sampah di TPA? Jawabannya ya. Sangat signitifikan. Data di Kota Jogja menunjukkan hal ini. (Lihat grafik)

Pada tahun 2009, ada 27 bank sampah. Sampah yang disetor ke TPA Piyungan sebanyak 91,13 ton. Pada tahun 2010, saat bank sampah tumbuh menjadi 67, sampah yang disektor ke TPA Piyungan turun menjadi 82,75 ton. Dan pada tahun 2011, saat bank sampah ada 93 buah, sampah yang disektor ke TPA 65,17 ton. Tahun 2016 ini, Bank Sampah di Kota Jogja sudah 405 buah, kendati belum ada data resmi, jika melihat tren di atas, pasti sampah yang disektor ke TPA pun jumlahnya menurun.

Dari sejumlah bank sampah yang melakukan produksi daur ulang, diperoleh informasi, keuntungan besar mereka raup dari upaya mengolah sampah ini. Ada yang rutin mendapat pesanan tas seminar daur ulang berbahan plastic bekas bungkus pewangi. Sekali pesan 300 buah. Ada yang mendapat pesanan bunga dari botol air mineral sebanyak 250 buah. Ada yang setiap pameran produk bros-nya laku keras.

Jadi, di balik sampah, ada berkah. Kuncinya: kreatiflah dalam melihat masalah. Tidak harus diolah, sampah dipilah pun nilai sudah “berubah”. Apalagi jika mau mengolah, sampah-sampah itu makin “wah”. Ibu-ibu ‘Aisyiyah, saatnhya berkiprah. Melirik sampah jadi ajang dakwah.

Shared Post:
Arsip
Idea Terbaru
Berita Terbaru